“Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter”

Berita

Kontak


Alamat :

Jalan Encep Kartawiria No. 97/A

Telepon :

022-6656705

Email :

yyhendayana21@gmail.com

Media Sosial :

JOIN TO US



BERITA


TIPS DAN TRIK AKM

TIPS DAN TRIK AKM

Asesmen Kompetensi Minimum

Asesmen Kompetensi Minimum

Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN)

Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN)


PESANTREN RAMADHAN 1442 H



PPDB ONLINE



PENGUMUMAN UN



EKULTURASI KARAKTER "CAGEUR, BAGEUR, BENER, SINGER, PINTER"

Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter”

Sebagai masyarakat Sunda asli, saya mengenal betul istilah “cageur”, “bageur”, “bener”, “singer”, “pinter”, yang dalam Bahasa Indonesia secara berurutan memiliki arti “sehat”, “baik”, “benar”, “mawas diri”, “pandai/cerdas”.

Kata “sunda” sendiri, dalam bahasa Jawa Kuno, memiliki pengertian bersih, suci, murbi, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Itulah sebabnya orang Sunda yang ‘nyunda’ perlu memiliki hati yang luhur. Lalu, lima karakter sunda yang mencangkup “cageur”, “bageur”, “bener”, “singer”, “pinter” adalah sebuah perangkat/kesatuan etos dan watak yang dijadikan jalan menuju keutamaan hidup.


“Cageur” atau “sehat” mencerminkan suatu karakter masyarakat sehat secara jasmani maupun rohani, namun istilah “cageur” dalam Sunda memiliki filosofi lebih dalam dari sekedar “sehat”, “cageur” mencerminkan watak masyarakat yang mampu berpikir dan bertindak secara rasional dan proporsional dengan dilandaskan nilai moral.

“Bageur” atau “baik” mencerminkan suatu karakter masyarakat yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan, menjunjung akhlak mulia terhadap sesama. Sebagai orang Sunda, saya sangat familiar dengan ungkapan “silih asih”, yang bermakna saling menyayangi, berempati, bertenggang rasa dan simpati.


Pada dasarnya, masyarakat Sunda ialah masyarakat yang paling menjunjung tinggi asas kebersamaan, sifat saling menolong dan gotong royong adalah bagian dari kebiasaan dalam bermasyarakat. Semua berlandaskan atas rasa kasih dan sayang antar sesama yang kemudian menciptakan keharmonisan dalam “rumah tangga” Sunda.

Kemuadian kata “bener” atau “benar” yang mencerminkan karakteristik masyarakat yang senantiasa amanah, tidak berbohong, tidak berkhianat, dan menunjung tinggi integritas yang artinya tiap ucapan harus sesuai dengan tindakan, seperti ungkapan dalam bahasa sunda “ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng koneng”, yang berarti harus mengatakan apa adanya, sesuai fakta, tidak ada manipulasi fakta. Ungkapan sunda lainnya ialah “nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun”, yang bermakna bahwa kita tidak boleh melarang sesuatu karena itu benar, dan harus melarang sesuatu karena hal tersebut tidak benar.


Adapun kata “singer” atau “mawas diri” yang mencerminkan pribadi yang senantiasa bertoleransi, senang berkorban/mendahulukan kepentingan orang lain, senang menerima kritikan/masukan dari orang lain terhadap dirinya untuk dijadikan bahan refleksi diri, serta memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama.

Terkahir adalah “pinter” atau “pintar” yang mencerminkan masyarakat berilmu yang dengan ilmunya tersebut mampu mengantarkan kepada jalan keberkahan dunia, yang berpangkal pada kemuliaan hidup untuk bekal di akhirat, bukan ilmu yang menjadikan pribadi seseorang sombong dan juga bukan ilmu yang membawa pada kemudaratan.

Di dalam Sunda, seseorang yang pintar ialah mereka yang mampu menyeimbangkan kehidupan yang berorientasi pada dunia dan akhirat seperti istilah dalam islam yaitu “tawazzun”.


PESANTREN RAMADHAN 1442 H



Awal Tahun Pelajaran 2021-2022


Januari 2022

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

PPKM



SMA PASUNDAN 3 CIMAHI